Rabu, 14 Maret 2012

Masalah Ekonomi di Negara Maju dan Berkembang 1

- Masalah Ekonomi di Negara Berkembang
Indonesia termasuk salah satu negara berkembang. Seperti juga negara berkembang lainnya, Indonesia menghadapi masalah ekonomi yang sama. Kemiskinan terjadi di mana-mana, jumlah pengangguran meningkat, tingkat kecerdasan masyarakat masih rendah, dan distribusi pendapatan tidak merata.
Di kota besar seperti Jakarta, keadaan seperti ini sudah menjadi pemandangan umum. Banyak orang yang hidup kurang beruntung  terpaksa hidup sebagai pemulung sampah. Oleh karena pendapatan yang diperoleh sangat rendah, anaknya tidak dapat disekolahkan sehingga tingkat kecerdasan anak tersebut tidak berkembang. Hal ini juga menimbulkan kesenjangan ekonomi yang tajam antara orang  yang berpenghasilan tinggi dan orang yang berpenghasilan rendah.
Masalah Ekonomi di Negara Berkembang : Kemiskinan
Kemiskinan merupakan perwujudan keadaan serta kekurangan. Setiap negara memilik ukuran batas kemiskinan yang berbeda dengan negara lain. Pemerintah Indonesia memberikan perhatian serius dalam menanggulangi masalah kemiskinan yang dialami masyarakat. Dari tahun ke tahun pemerintah terus berupaya menurunkan jumlah dan persentase penduduk miskin dengan berbagai cara, antara lain subsidi silang. Subsidi silang yang dilakukan pemerintah yaitu dengan menetapkan harga BBM untuk minyak tanah lebih rendah daripada bensin. Subsidi untuk bensin  sedikit demi sedikit dikurangi dan nantinya dihilangkan sama sekali. Subsidi untuk minyak tanah masih dipertahankan agar masyarakat berpenghasilan rendah mampu membeli minyak tanah.
Masalah Ekonomi di Negara Berkembang :  Keterbelakangan
Masalah keterbelakangan sangat berhubungan dengan masalah kualitas sumber daya manusia. Disamping itu, masalah keterlebakangan sangat erat hubungannya dengan rendahnya tingkat kemajuan dan pelayanan kesehatan, kurang terpeliharanya fasilatas-fasilitas umum, dan rendahnya disiplin masyarakat.
Untuk mengatasi masalah-masalah tersebut, pemerintahan Indonesia berupaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia, misalnya dengan meningkatkan mutu pendidikan nasional. Persentase alokasi dana untuk pendidikan pada anggaran APBN setiap tahunnya ditingkatkan. Hal ini dimaksudkan untuk membantu sekolah yang kekurangan sarana dan prasarana belajar, seperti gedung sekolah yang rusak, buku-buku pelajaran yang kurang dan murid-murid yang memerlukan bantuan biaya sekolah.
Masalah Ekonomi di Negara Berkembang :  Pengangguran

Masalah lain yang dihadapi negara berkembang dalam pembangunan ekonomi adalah masalah keterbatasan lapangan pekerjaan. Masalah pengangguran  timbul karena ada ketimpangan antara jumlah angkatan kerja dan jumlah lapangan pekerjaan yang tersedia. Hal ini biasa terjadi karena negara yang bersangkutan sedang mengalami masa transisi perubahan struktur ekonomi dari negara agraris menjadi negara industry. Akibatnya angkatan
kerja yang tersedia berada di sector agraris, sedangkan lapangan pekerjaan yang tersedia menuntut keahlian di sector industry.
Negara berkembang memiliki pertumbuhan penduduk lebih cepat daripada pertumbuhan kesempatan kerja. Untuk mengatasi masalah pengangguran, pemerintahan melakukan pelatihan kerja sehingga tenaga kerja memiliki keahlian sesuai dengan lapangan kerja yang tersedia. Pelatihan kerja biasanya diselenggarakan oleh balai latihan kerja (BLK). Melalui program ini  diharapkan peserta pelatihan dapat mengembangkan bakat dan keahlian untuk bekerja atau bahkan membuka usaha sendiri.
Masalah Ekonomi di Negara Berkembang :  Kekurangan Modal
Kekurangan modal adalah satu cirri setiap negara yang sedang mengalami proses pembangunan ekonomi. Kekurangan modal tidak hanya menghambat percepatan pembangunan, tetapi juga  menyebabkan kesukaran negara tersebut keluar dari kemiskinan.
Perkembangan zaman dan modernisasi perekonomian memerlukan modal yang besar. Negara berkembang mengalami kesulitan yang sama, yaitu kekurangan modal. Hal ini disebabkan tingkat tabungan dan tingkat pembentukan modal yang rendah.
Untuk mengatasi kekurangan modal, pemerintah menarik investor, baik dari dalam maupun luar negeri. Misalnya BUMN menawarkan saham kepada investor agar bersedia bekerjasama. Dengan meningkatkan investasi, diharapkan tabungan permintahan juga meningkat. Jika tabungan pemerintah meningkat, modal yang dikumpulkan pun akan lebih banyak.
Masalah Ekonomi di Negara Berkembang : Ketidakmerataan hasil pembangunan
Masalah lain yang dihadapi negara berkembang adalah melaksanakan pembangunan ekonomi adalah masalah pemerataan pendapatan. Contohnya di Indonesia, perekonomian terkonsentrasi di kota-kota besar, terutama di pulau jawa. Sementara itu, dilihat dari hak penguasaan sector industry, perekonomian didominasi oleh kurang lebih 200 konglomerat. Hal ini disebabkan sistem perekonomian yang terlau terpusat kepada negara sehingga potensi daerah kurang diperhatikan.
Melalui perubahan sistem perundang-undangan pemerintah Indonesia mulai memperbaiki sistem perekonomian negara. Sistem perundang-undangan yang memihak praktik monopoli mulai dihapus. Di samping itu, untuk mengurangi kesenjangan pembangunan antara pemerintah pusat dan daerah, diberlakukan undang-undang otonomi daerah. Daerah diberi kebebasan untuk mengembangkan potensi dan pemerintah pusat tidak lagi terlalu campur tangan dalam urusan rumah tangga pemerintah  daerah.
- Masalah Ekonomi di Negara Maju
Kota Tokyo di Jepang terkenal dengan masyarakatnya yang disiplin dan teratur. Setiap jalan diatur sedemikian rupa sehignga terlihat rapih, begitu pun gedung-gedung dibangun dengan teratur.
Meskipun sudah terbiasa dengan budaya disiplin dan teratur, tetapi tetap saja negara-negara maju menghadapi berbagai masalah ekonomi. Masalah tersebut adalah sebagai berikut:
Masalah Ekonomi di Negara Maju :  Tenaga kerja negara berkembang masuk ke negara maju
Negara maju memiliki pertumbuhan penduduk yang lambat atau bahkan berangka satu (zero population growth) sehingga negara maju kekurangan tenaga kerja. Meskipun di negara maju peraturan ketenagakerjaan sudah baik, tetapi tetap saja arus masuk tenaga kerja dari negara berkembang ke negara maju membawa dampak negative. Hal ini disebabkan perbedaan budaya antara penduduk asli dan penduduk pendatang. Dampak negative itu diantaranya, terjadi bentrokan fisik atau konflik sosial lain antara penduduk asli dan penduduk pendatang.
Masalah Ekonomi di Negara Maju :  Produk negara berkembang masuk ke negara maju
Produk negara berkembang banyak masuk kenegara maju. Globalisasi ekonomi menyebabkan hambatan perdagangan antarnegara semakin berkurang. Produk negara berkembang seperti dari Cina dan Taiwan banyak beredar dipasar negara Eropa sehingga konsumen lebih banyak memiliki pilihan produk. Produk cina dan Taiwan tidak kalah bersaing dari segi inovasi maupun kualitasnya. Produk-produk cina dan Taiwan biasanya lebih murah sehingga dapat mengancam produk-produk eropa yang biasanya lebih mahal harganya.
Masalah Ekonomi di Negara Maju :  Investasi negara maju masuk ke negara berkembang
Banyak pengusaha dari negara maju yang menanamkan investasi di negara berkembang. Mereka berusaha menghindari pajak yang tinggal di negaranya sendiri dan berusaha untuk menghemat biaya produksi. Disamping itu, negara berkembang merupakan pasar potensial bagi produk-produk dari luar negeri. Jika pengusaha dari negara maju membuka perusahaan di negara berkembang, tentu akan lebih mendekatkan diri dengan konsumen. Hal ini jelas akan lebih mempermudah sistem pemasarannya. Akibat  langsung dari pengusaha negara maju yang berinvestasi di negara berkembang adalah menurunnya tingkat investasi di negara maju tersebut.
Masalah Ekonomi di Negara Maju : Kerusakan lingkungan meningkat
Negara maju mengklaim bahwa negara berkembanglah yang banyak membuat kerusakan lingkungan. Hal tersebut dapat dimaklumi karena memang sebagian besar negera berkembang belum memiliki peraturan yang jelas mengenai pencemaran lingkungan. Akan tetapi, hal tersebut tidak sepenuhnya benar karena banyak juga pengusaha dari negara maju yang mengeruk sumber daya alam sebesar-besarnya  untuk keperluan produksi. Bahkan, ada pengusaha dari negara maju yang mengambil sumber daya alam dari negara berkembang tanpa memperhatikan kelestarian lingkungan. Masalah Ekonomi di Negara Berkembang & Negara Maju. 


sumber : http://arafizal.taajussalaam.com/artikel/umum/10-masalah-ekonomi-di-negara-berkembang-a-negara-maju.html

Jumat, 09 Maret 2012

Ekonomi Mikro dan Makro 10

Dengan analisis obyektif harus diakui indikator ekonomi makro Indonesia menunjukkan perbaikan yang semakin menggembirakan. Tekanan internal dan eksternal memang silih berganti, namun secara keseluruhan dan berkelanjutan kecenderungan ekonomi semakin membaik. Prestasi para arsitek ekonomi makro Indonesia di Bank Indonesia (BI), di lembaga eksekutif dan legislatif patutlah diapresiasi secara proporsional.

Ada banyak instrumen kebijakan yang dapat dipergunakan dalam mengelola perekonomian suatu negara seperti Indonesia. Empat instrumen utama yang diperkenalkan kepada mahasiswa ekonomi tahun pertama ialah kebijakan fiskal, kebijakan moneter, kebijakan ekonomi internasional, dan kebijakan pendapatan. Kebijakan-kebijakan tersebut dimaksudkan mendorong pertumbuhan dan menciptakan kesatabilan ekonomi.

Bahwa iklim investasi belum menunjukkan perbaikan yang simetris dengan perbaikan indikator makro memang harus diakui. Dengan kata lain terdapat semacam asimetric condition antara makro dan mikro. Kondisi makro mungkin dapat dianalogikan atau diibaratkan satu lapangan bola yang baik dengan fasilitas standard FIFA untuk kompetisi internasional. Permasalahannya ialah kapasitas para pemain, wasit dan hakim garis belum cukup sepadan untuk memanfaatkan lapangan yang ada sehingga pertandingan tidak memuaskan penonton.

Sebagaimana sudah diungkapkan dalam rubrik ini, posisi daya saing Indonesia terus merosot. Hasil rating yang dilakukan oleh World Economic Forum menunjukkan penurunan posisi Indonesia dari nomor 49 pada tahun 2003 menjadi posisi ke-54 pada tahun 2007. Sementara berdasarkan hasil penilaian Jepang atas daya tarik investasi di Indonesia juga makin melorot yakni turun dari posisi ke-6 menjadi posisi ke-9. Indikator yang biasa digunakan dalam menetapkan daya tarik dan daya saing ialah faktor-faktor ekonomi mikro.

Dalam sistem ekonomi pasar salah satu fungsi pemerintah dalam pengelolaan ekonomi ialah mendorong kestabilan dan pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi merupakan ukuran kenaikan relatif produksi satu negara yang disebut sebagai indikator makro. Sementara kenaikan produksi suatu perekonomian itu sendiri ialah pertambahan output masing-masing unit, perusahaan atau pelaku ekonomi yang dikenal sebagai indikator mikro. Unit-unit mikro menjadi perekonomian secara keseluruhan atau disebut ekonomi makro.

Perekonomian suatu negara hanya akan stabil dan tumbuh apabila terdapat koordinasi yang baik antara mikro dan makro. Sebagai contoh sederhana dapat diperhatikan kenaikan harga minyak mentah dunia yang membuat harga BBM dalam negeri ikut melonjak. Kenaikan harga minyak dan BBM ialah sisi ekonomi mikro. Sementara pengaruh kenaikan harga minyak yang telah mendorong kenaikan harga-harga secara umum atau inflasi merupakan sisi ekonomi makro.

Subsidi BBM yang diberikan pemerintah melalui Pertamina dilakukan dengan menyediakan anggarannya dalam APBN. Penyediaan anggaran subsidi pada hakikatnya ialah kebijakan makro dengan sasaran untuk membantu pelaku ekonomi (mikro) yang diharapkan dapat menekan kenaikan harga-harga atau inflasi (makro). Contoh dan penjelasan tersebut menunjukkan betapa pentingnya koordinasi kebijakan makro dan mikro.

Daya saing ekonomi Indonesia yang lemah antara lain karena pada tataran mikro banyak masalah yang dihadapi pengusaha. Misalnya birokrasi yang rumit dan mahal ongkosnya. Para pengusaha sendiri kurang kemampuan dalam berkompetisi karena mereka dibentuk oleh pendidikan dan lingkungan yang tidak mengembangkan kompetensi dalam persaingan pasar.

Jaringan bisnis terbatas karena tidak terbiasa hidup dalam akses yang luas. Sistem tata kelola dan nilai-nilai yang dikembangkan oleh pemerintah tidak mengapresiasi pengusaha sebagaimana lazimnya di negara lain.

Ketidaksimetrisan kebijakan ekonomi makro dan mikro membuat perkembangan ekonomi nasional belum juga menemukan akselerasi yang berkelanjutan. Sementara pada level persaingan internasional negara-negara mitra mengalami perkembangan yang pesat. Negara lain makin maju ke depan, Indonesia masih disibuki masalah jangka pendek seperti penyediaan anggaran untuk menambah subsidi pangan dan bahan bakar.

Salah satu masalah yang dihadapi oleh dunia usaha ialah kondisi infrastruktur dan ketersediaan energi. Akibatnya kegiatan meningkatkan produksi menjadi terkendala. Pada saat yang bersamaan di pasar keuangan pembenahan perangkat keras dan lunaknya dilakukan sebagaimana pasar keuangan global. Modal asing pun masuk dan bergerak seperti adanya pasar keuangan global. Dimensi yang mencerminkan kemajuan ekonomi makro yang menggembirakan.

Surplus pendapatan yang ditahan masyarakat sebagai tabungan akhirnya mengalir ke pasar keuangan. Ketika pemerintah membutuhkan anggaran uang masyarakat yang mengalir ke pasar keangan ditarik melalui obligasi negara. Sayangnya dana tersebut tidak digunakan untuk membangun infrastruktur melainkan untuk menambah subsidi. Akibatnya perbaikan infrastruktur yang dibutuhkan pengusaha tidak belum terpenuhi sehingga kondisi ekonomi mikro semakin ketinggalan.

Demikianlah ketidaksimetrisan makro dan mikro membuat perekonomian Indonesia mengalami anomali. Pada saat beberapa indikator ekonomi makro menunjukan perbaikan yang berkelenjutan, para pengamat marasa kaget karena tingkat kemiskinan dan pengangguran masih tetap tinggi. Beberapa ekonom bahkan menjadi frustrasi mengecam data yang dirilis BPS sebagai data bohong. Seperti kata pepatah buruk muka cermin dicerca.

Untuk mengatasi masalah ketidaksimetrisan makro dna mikro dimaksud harus dilakukan upaya yang bersifat menyeluruh. Dalam kalimat yang sederhana rumusannya ialah: Pemerintah harus dengan sungguh-sungguh melaksanakan fungsinya yang klasik. Para menteri hendaknya tidak lagi banyak berwacana seperti halnya pengamat dan politisi.




sumber : http://www.waspada.co.id/index.php?option=com_content&view=article&catid=24%3Atinjauan-ekonomi&id=14244%3Akondisi-asimetrik-ekonomi-indonesia&Itemid=95

Ekonomi Mikro dan Makro 9

Perbedaan ekonomi makro dan ekonomi mikro terletak pada penekanan. Ekonomi mikro membahas perilaku unit ekonomi secara individual seperti tingkah laku individual konsumen rumah tangga, perusahaan atau produsen, dan pemerintah dengan unit-unitnya dalam menetukan pilihan (choice). Ekonomi Mikro juga mempelajari bagaimana interaksi ketiga pelaku ekonomi ini dikoordinasikan oleh kekuatan pasar. Pasar dalam Ekonomi Mikro mempunyai tiga fungsi penting. Pertama, pasar berfungsi untuk menyebarkan informasi agar sumberdaya yang terbatas jumlahnya dapat dipakai pada tempat yang paling efisien dan menguntungkan. Pasar menyampaikan informasi ini kepada pelaku ekononmi melalui harga barang dan jasa. Kedua, pasar berfungsi untuk memberikan insentif kepada pelaku ekonomi. Konsumen akan menggunakan sumberdaya (uang) yang terbatas dengan hati-hati agar mendapatkan kepuasan yang maksimal dari uang tersebut. Demikian juga produsen akan terdorong meningkatkan produksi dan menekan biaya produksi agar bisa meraih keuntungan yang tinggi. Keuntungan adalah insentif yang sangat kuat dibelakang aktifitas manusia. Ketiga, pasar juga mendistribusikan pendapatan sesuai dengan usaha dan ketrampilan yang dimiliki oleh setiap individu. Bisnis yang berani mengambil resiko dan membuat keputusan dengan benar besar kemungkinan akan mendapatkan keuntungan yang tinggi dibandingkan dengan bisnis yang salah mengambil keputusan dan tidak berani mengambil resiko.

Ekonomi makro, sesuai dengan kata ’makro’ berarti besar, mengkaji tingkah laku pelaku ekonomi dalam skala besar atau disebut juga dengan Aggregat dan kebijaksanaan ekonomi Nasional secara keseluruhan yang meliputi antara lain interaksi antara pasar barang, tenaga kerja, dan pasar aset dan interaksi antara ekonomi negara-negara yang berdagang satu sama lainnya. Ekonomi makro juga mempelajari kebijakan ekonomi dan pengaruhnya terhadap varaibel-variabel ekonomi, seperti pertumbuhan ekonomi, inflasi, pengangguran, dan variable agregat lainnya.

Pasar pada ekonomi makro dibedakan berdasarkan jenis komoditi aggregate yang ditransaksikan, yaitu pasar barang, pasar tenaga kerja, dan pasar uang atau financial. Sedangkan pada ekonomi mikro pasar dibedakan menurut individu komoditi, misalnya pasar beras, pasar jagung, pasar pakaian dan lain-lain dengan ketiga fungsinya seperti yang diterangkan diatas. Karena ekonomi makro berbicara pada tataran aggregate maka pasar barang adalah pasar aggregate bukan individu komoditi seperti pada ekonomi mikro. Artinya kurva supply dan demand pada ekonomi makro adalah kurva yang menunjukkan hubungan antara harga aggregate dan barang aggregate. Kedua kurva ini disebut dengan Aggregate Demand (AD) dan Aggregate Supply (AS). Dengan kata lain AD adalah penjumlahan dari fungsi Demand induvidu konsumen. Pada ekonomi mikro hanya disebut Demand dan Supply. Pengertian Aggregate Demand dan Aggegate Supply ini akan dibahas lebih lanjut pada bab 2 dan 5.

Pada ekonomi mikro pasar juga dibedakan atas dua kutub ekstrim yaitu pasar bersaing sempurna (perfectly competitive market) dan pasar monopoli (monopoly market) berdasarkan sejauh mana para pelaku pasar bisa mengontrol harga barang. Pada ekonomi makro pasar dapat juga dibedakan atas dua kutub ekstrim tetapi berdasarkan tingkat intervensi pemerintah, yaitu pasar bebas (free market) dan pasar yang terkontrol (controlled market). Pasar bebas adalah pasar dimana tidak ada campur tangan pemerintah atau sangat minimal, sedangkan pasar terkontrol sangat sarat dengan intervensi pemerintah. Pasar bebas banyak dianut dan di promosikan oleh negara-negara Barat dan pasar terkontrol banyak dianut oleh negara-negara sosialis dan komunis.


sumber : http://id.answers.yahoo.com/question/index?qid=20101019070146AAOV7tz

Ekonomi Mikro dan Makro 8

EKONOMI MAKRO DAN EKONOMI MIKRO
Ilmu ekonomi adalah ilmu yang mempelajari perilaku manusia di dalam memenuhi kebutuhannya yang relatif tidak terbatas dengan menggunakan sumber daya yang terbatas dan masing-masing sumber daya mempunyai alternatif penggunaan (opportunity cost).
Ekonomi makro atau makroekonomi adalah studi tentang ekonomi secara keseluruhan. Makroekonomi menjelaskan perubahan ekonomi yang memengaruhi banyak rumah tangga (household), perusahaan, dan pasar. Ekonomi makro dapat digunakan untuk menganalisis cara terbaik untuk memengaruhi target-target kebijaksanaan seperti pertumbuhan ekonomi, stabilitas harga, tenaga kerja dan pencapaian kesimbangan neraca yang berkesinambungan.
Ilmu ekonomi muncul karena adanya tiga kenyataan berikut :
• Kebutuhan manusia relatif tidak terbatas.
• Sumber daya tersedia secara terbatas.
• Masing-masing sumber daya mempunyai beberapa alternatif penggunaan.
Secara garis besar ilmu ekonomi dapat dipisahkan menjadi dua yaitu ilmu ekonomi mikro dan ilmu ekonomi makro. Pengertian dan perbedaan ekonomi makro dan ekonomi mikro terletak pada ruang lingkup kajian ekonomi.
Ekonomi Makro
Hingga 1930 sebagian besar analisis ekonomi terfokus pada industri dan perusahaan. Ketika terjadi Depresi Besar pada tahun 1930-an, dan dengan perkembangan konsep pendapatan nasional dan statistik produk, bidang ekonomi makro mulai berkembang. Saat itu, gagasan-gagasan yang terutama berasal dari John Maynard Keynes, yang menggunakan konsep aggregate demand untuk menjelaskan fluktuasi antara hasil produksi dan tingkat pengangguran, sangat berpengaruh dalam perkembangan bidang ini. Keynesianisme didasarkan pada gagasan-gagasannya.
Berikut adalah pengertian dan perbedaan ekonomi mikro dan ekonomi makro:
1. Ekonomi Makro
Ilmu ekonomi makro mempelajari variabel-variabel ekonomi secara agregat (keseluruhan). Variabel-variabel tersebut antara lain : pendapatan nasional, kesempatan kerja dan atau pengangguran, jumlah uang beredar, laju inflasi, pertumbuhan ekonomi, maupun neraca pembayaran internasional.
Ilmu ekonomi makro mempelajari masalah-masalah ekonomi utama sebagai berikut :
• Sejauh mana berbagai sumber daya telah dimanfaatkan di dalam kegiatan ekonomi. Apabila seluruh sumber daya telah dimanfaatkan keadaan ini disebut full employment. Sebaliknya bila masih ada sumber daya yang belum dimanfaatkan berarti perekonomian dalam keadaan under employment atau terdapat pengangguran/belum berada pada posisi kesempatan kerja penuh.
• Sejauh mana perekonomian dalam keadaan stabil khususnya stabilitas di bidang moneter. Apabila nilai uang cenderung menurun dalam jangka panjang berarti terjadi inflasi. Sebaliknya terjadi deflasi.
• Sejauh mana perekonomian mengalami pertumbuhan dan pertumbuhan tersebut disertai dengan distribusi pendapatan yang membaik antara pertumbuhan ekonomi dan pemerataan dalam distribusi pendapatan terdapat trade off maksudnya bila yang satu membaik yang lainnya cenderung memburuk.
2. Ekonomi Mikro
Sementara ilmu ekonomi mikro mempelajari variabel-variabel ekonomi dalam lingkup kecil misalnya perusahaan, rumah tangga.
Dalam ekonomi mikro ini dipelajari tentang bagaimana individu menggunakan sumber daya yang dimilikinya sehingga tercapai tingkat kepuasan yang optimum. Secara teori, tiap individu yang melakukan kombinasi konsumsi atau produksi yang optimum bersama dengan individu-individu lain akan menciptakan keseimbangan dalam skala makro dengan asumsi ceteris paribus.
Perbedaan ekonomi mikro dan ekonomi makro
Harga
Ekonomi Mikro: Harga ialah nilai dari suatu komoditas (barang tertentu saja).
Ekonomi Makro: Harga adalah nilai dari komoditas secara agregat (keseluruhan)
Unit analisis
Ekonomi Mikro adalah: Ilmu ekonomi yang membahas tentang kegiatan ekonomi secara individual. Contohnya permintaan dan dan penawaran, perilaku konsumen, perilaku produsen, pasar, penerimaan, biaya dan laba atau rugi perusahaan.
Ekonomi Makro adalah: Ilmu ekonomi yang membahas tentang kegiatan ekonomi secara keseluruhan. Contohnya pendapatan nasional, pertumbuhan ekonomi, inflasi, pengangguran, investasi dan kebijakan ekonomi.
Tujuan analisis
Ekonomi Mikro: Lebih memfokuskan pada analisis tentang cara mengalokasikan sumber daya agar dapat dicapai kombinasi yang tepat.
Ekonomi Makro: Lebih memfokuskan pada analisis tentang pengaruh kegiatan ekonomi terhadap perekonomian secara keseluruhan.
Masalah-masalah yang dihadapi pemerintah di bidang ekonomi
1. Masalah kemiskinan
Upaua penanggulangan kemiskinan dapat dilakukan melalui berbagai cara, misalnya program IDT (Inpres Desa Tertinggal), KUK (Kredit Usaha Kecil), KMKP (Kredit Modal Kerja Permanen) PKT (Program Kawasan Terpadu), GN-OTA dan program wajib belajar.
2. Masalah Keterbelangkangan
Masalah yang dihadapi adalah rerndahnya tingkat pendapatan dan pemerataannya, rendahnya pelayanan kesehatan, kurang terpeliharanya fasilitas umum, rendahnya tingkat disiplin masyarakat, renddahnya tingkat keterampilan, rendahnya tingkat pendidikan formal, kurangnya modal, produktivitas kerja, lemahnya manajemen usaha. Untuk mengatasi masalah ini pemerintah berupaya meningkatkan kualitas SDM, pertukranan ahli, transper teknologi dari Negara maju.
3. Masalah pengangguran dan kesempatan kerja
Masalah pengangguran timbul karena terjadinya ketimpangan antara jumlah angkatan kerja dan kesempatan kerja yang tersedia. Untuk mengatasi masalah ini pemerintah melakukan pelatihan bagi tenaga kerja sehingga tenaga kerja memeiliki keahlian sesuai dengan lapangan kerja yang tersedia, pembukaan investasi baru, terutama yang bersifat padat karya, pemberian informasi yang cepat mengenai lapangan kerja
4. Masalah kekurangan modal
Kekurangan modal adalah suatu cirri penting setiap Negara yang memulai proses pembangunan. Kekurangan modal disebabkan tingkat pendapatan masyarakat yang rendah yang menyebabkan tabungan dan tingkat pembentukan modal sedikit. Cara mengatasinya memlaui peningkatan kualitas SDM atau peningkatan investasi menjadi lebih produktif.
Peran dan Fungsi Pemerintah di Bidang Ekonomi
1. Fungsi stabilisasi, yaitu fungsi pemerintah dalam menciptakan kestabilan ekonomi, sosial politik, hokum, pertahanan dan keamanan.
2. Fungsi alokasi, yaitu fungsi pemerintah sebagai penyedia barang dan jasa public, seperti pembangunan jalan raya, gedung sekolah, penyediaan fasilitas penerangan, dan telepon.
3. Fungsi distribusi, yaitu fungsi pemerintah dalam pemerataan atau distribusi pendapatan masyarakat.


sumber : http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2011/03/ekonomi-makro-dan-ekonomi-mikro-2/

Ekonomi Mikro dan Makro 7

Ruang lingkup kajian ekonomi mikro adalah produsen dan konsumen. Tradisi berlandaskan teori Adam Smith.Ekonomi mikro dengan demikian memiliki ruang lingkup pada produsen dan konsumen. Produsen dan konsumen tersebut dalam dunia ekonomi yang nyata adalah idnividu-individu pada rumah tangga keluarga, masyarakat, atau perusahaan.

Unit-unit ekonomi skala mikro tersebut harus berusaha mengalokasikan sumberdaya ekonomi yang terbatas untuk mampu mengoiptimalkan tingkat pemuasan kebutuhannya. Jadi melalui kajian/analisis ekonomi mikro dapat diperoleh kejelasan mengapa orangtua kamu harus mengatur dan membuat alokasi yang tepat dari pendapatan yang diperoleh untuk memenuhi kebutuhan hidup keluargamu, termasuk mengalokasikannya untuk keperluan pembelian peralatan sekolahmu.

Melalui kajian ekonomi mikro juga dapat diperoleh kejelasan mengenai adanya perbedaan tingkat upah yang diterima oleh seorang guru dengan seorang dokter.

Tradisi kajian ekonomi mikro berkembang pada masa berpengaruhnya ilmu ekonomi dari Adam Smith. Tentunya kamu masih ingat mengenai konsep invisible hand. Konsep tersebut menyatakan, bahwa keseimbangan perekonomian akan diatur oleh tangan tidak tampak, sehingga tidak diperlukan regulasi khusus dari pemerintah.

Tangan-tangan tidak tampak adalah aktivitas pelaku-pelaku ekonomi mikro. Para pelaku ekonomi akan berusaha dengan sendirinya menyesuaikan perkembangan dan perubahan dalam aktivitas ekonomi ke arah keseimbangan bagi aktivitas mereka. Setiap pelaku ekonomi dengan demikian memiliki kebebasan untuk berusaha mencapai dan meningkatkan kesejahteraan.

Ruang lingkup kajian ekonomi makro adalah usaha masyarakat dan pemerintah dalam mengelola faktor produksi secara efisien. Landasan kajian ekonomi makro adalah teori Keynes Ekonomi makro memusatkan perhatian pada usaha masyarakat sebagai satu kesatuan untuk melakukan efisiensi dalam menggunakan faktor-faktor produksi yang tersedia.

Peristiwa-peristiwa dan masalah-masalah ekonomi yang dipelajari merupakan suatu agregatif. Lingkup kajiannya dapat berupa pendapatan total dari suatu masyarakat, kesempatan kerja di sebuah negara, penyebab resesi di Indonesia, atau kondisi neraca perdagangan sebuah negara pada akhir tahun.


Cakupan ekonomi makro dengan demikian merupakan suatu kesatuan dari perusahaan, rumah tangga, tingkat upah dan harga, dan pendapatan dalam skala makro. Jika digunakan suatu perumpamaan apabila kajian ekonomi mikro adalah pada cara Andi sebagai siswa SMA Gembala Baik dalam menggunakan uang jajannya, maka kajian ekonomi makro adalah perilaku seluruh siswa SMA Gembala Baik dalam menggunakan uang jajannya.

Tradisi teori ekonomi makro bersumber dari Keynes. Tradisi kajian ini timbul sebagai reaksi terhadap kegagalan tradisi ekonomi Adam Smith dalam menjelaskan timbulnya resesi, pengangguran, kemiskinan, dan masalah kegagalan proses pembangunan ekonomi. Dalam tradisi ini, kedudukan negara/pemerintah sebagai regulator perekonomian justru ditonjolkan.

Kajian ekonomi terutama dilakukan pada tingkat negara dan juga sangat didominasi oleh kebijkan yang dibuat negara. Sehingga melalui cara ini sering terjadi kekeliruan penafsiran bahwa toeri makro ekonomi adalah kajian tentang ekonomi negara. Jelas pandangan ini keliru, negara/pemerintah hanyalah salah satu aktor ekonomi yang memang cukup penting kedudukannya dalam menghasilkan regulasi untuk mengatasi masalah dan beban sosial akibat perubahan ekonomi.

Masalah yang dianalisis dalam ekonomi mikro adalah:

  • Interaksi di pasar barang.
  • Tingkah laku penjual dan pembeli
  • Interaksi di pasar faktor-faktor produksi
  • Masalah yang dianalisis dalam ekonomi makro adalah:
  • Pengeluaran agregatif dalam perekonomian.
  • usaha mencapai kesempatan kerja penuh tanpa inflasi
  • Kebijaksanaan pemerintah dalam mengatasi pengangguran dan inflasi. 

sumber : http://www.gudangmateri.com/2010/10/ruang-lingkup-ekonomi-makro-dan-mikro.html

Ekonomi Mikro dan Makro 6

Teori ekonomi mikro dan makro — Presentation Transcript

  • 1. Micro and Macroeconomics Theories
  • 2. Microeconomics Theories
  • 3. Ilmu ekonomi mikro (microeconomics) adalah cabang dari ilmu ekonomi yang mempelajari perilaku konsumen dan perusahaan serta penentuan harga-harga pasar dan kuantitas faktor input, barang, dan jasa yang diperjualbelikan. Ekonomi mikro meneliti bagaimana berbagai keputusan dan perilaku tersebut mempengaruhi penawaran dan permintaan atas barang dan jasa, yang akan menentukan harga; dan bagaimana harga, pada gilirannya, menentukan penawaran dan permintaan barang dan jasa selanjutnya. Individu yang melakukan kombinasi konsumsi atau produksi secara optimal, bersama-sama individu lainnya di pasar, akan membentuk suatu keseimbangan dalam skala makro; dengan asumsi bahwa semua hal lain tetap sama (ceteris paribus).
  • 4. Salah satu tujuan ekonomi mikro adalah menganalisa pasar beserta mekanismenya yang membentuk harga relatif kepada produk dan jasa, dan alokasi dari sumber terbatas diantara banyak penggunaan alternatif. Ekonomi mikro menganalisa kegagalan pasar, yaitu ketika pasar gagal dalam memproduksi hasil yang efisien; serta menjelaskan berbagai kondisi teoritis yang dibutuhkan bagi suatu pasar persaingan sempurna.
  • 5. Interaksi di Pasar Barang (Interaction in Goods Market) Menunjukkan fungsi dan operasi pasar tentang interkasi antara penjual dan pembeli untuk menentukan tingkat harga dan jumlah barang yang diperjualbelikan di suatu pasar barang. Perilaku Konsumen dan Produsen (Consumer and Producer Behaviour) Dalam ekonomi mikro, penjual dan pembeli selalu rasional dan pembeli berusaha memaksimalkan kepuasan, sedangkan penjual memaksimalkan keuntungan. 3. Interaksi di Pasar Faktor Produksi (Interaction in Production Factor Market) Pembeli faktor produksi terdiri dari produsen, dan penjualnya berupa individu – individu pemilik faktor produksi yang akan menghasilkan harga yang biasa terbentuk upah / gajiuntuk tenaga kerja, bunga untuk modal, sewa untuk tanah, dan laba untuk pengusaha.
  • 6. Model permintaan dan penawaran menjelaskan bagaimana harga beragam sebagai hasil dari keseimbangan antara ketersediaan produk pada tiap harga (penawaran) dengan kebijakan distribusi dan keinginan dari mereka dengan kekuatan pembelian pada tiap harga (permintaan). Grafik ini memperlihatkan sebuah pergeseran ke kanan dalam permintaan dari D1 ke D2 bersama dengan peningkatan harga dan jumlah yang diperlukan untuk mencapai sebuah titik keseimbangan (equibilirium) dalam kurva penawaran (S).
  • 7. Teori penawaran dan permintaan biasanya mengasumsikan bahwa pasar merupakan pasar persaingan sempurna. Implikasinya ialah terdapat banyak pembeli dan penjual di dalam pasar, dan tidak satupun diantara mereka memiliki kapasitas untuk mempengaruhi harga barang dan jasa secara signifikan. Dalam berbagai transaksi di kehidupan nyata, asumsi ini ternyata gagal, karena beberapa individu (baik pembeli maupun penjual) memiliki kemampuan untuk mempengaruhi harga. Kegagalan pasar dalam ekonomi positif (ekonomi mikro) dibatasi dalam implikasi tanpa mencampurkan kepercayaan para ekonom dan teorinya. Permintaan untuk berbagai komoditas oleh perorangan biasanya disebut sebagai hasil dari proses maksimalisasi kepuasan. Penafsiran dari hubungan antara harga dan kuantitas yang diminta dari barang yang diberi, memberi semua barang dan jasa yang lain, pilihan pengaturan seperti inilah yang akan memberikan kebahagiaan tertinggi bagi para konsumen.
  • 8. Dalam ekonomi mikro, istilah "kegagalan pasar" tidak berarti bahwa sebuah pasar tidak lagi berfungsi. Malahan, sebuah kegagalan pasar adalah situasi dimana sebuah pasar efisien dalam mengatur produksi atau alokasi barang dan jasa ke konsumen. Empat jenis utama penyebab kegagalan pasar adalah : Monopoli Eksternalitas (Ada eksternalitas positif dan eksternalitas negatif. Eksternalitas positif terjadi dalam kasus seperti dimana program kesehatan keluarga di televisi meningkatkan kesehatan publik. Eksternalitas negatif terjadi ketika proses dalam perusahaan menimbulkan polusi udara atau saluran air. Eksternalitas negatif bisa dikurangi dengan regulasi dari pemerintah, pajak, atau subsidi, atau dengan menggunakan hak properti.) Biaya peluang (Biaya peluang merupakan salah satu cara untuk melakukan perhitungan dari sesuatu biaya. Bukan saja untuk mengenali dan menambahkan biaya ke proyek, tetapi juga mengenali cara alternatif lainnya untuk menghabiskan suatu jumlah uang yang sama. Keuntungan yang akan hilang sebagai akibat dari alternatif terbaik lainnya adalah biaya peluang dari pilihan pertama. ) Penerapan ekonomi mikro
  • 9. Teori harga (price theories) : menganalisis tentang interaksi antara permintaan dan penawaran barang dan jasa dalam suatu pasar , bentuk pasara, elastisitas penawaran dan sebagainya. Teori produksi (production theories): menganalisis tentang seluruh biaya produksi, jumlah produksi sehingga dapat mencapai laba maksimal. Teori distribusi (distribution theories) : menganalisis tentang masalah pendistribusian faktor – faktor produksi, tingkat upah tenaga kerja, bunga yang dibayar kepada pemilik modal dan tingkat keuntungan dari perusahaan.
  • 10. Pelaku – pelaku ekonomi bertindak mengikuti keinginan pribadi Produsen dan konsumen bertindak rasional Konsumen
  • 11. Macroeconomics Theories
  • 12. Ekonomi makro atau macroekonomics adalah studi tentang ekonomi secara keseluruhan. Makroekonomi menjelaskan perubahan ekonomi yang mempengaruhi banyak rumah tangga (household), perusahaan, dan pasar. Ekonomi makro dapat digunakan untuk menganalisis cara terbaik untuk mempengaruhi target-target kebijaksanaan seperti pertumbuhan ekonomi, stabilitas harga, tenaga kerja dan pencapaian keseimbangan neraca yang berkesinambungan. 
sumber : http://www.slideshare.net/DesyDwikawati/teori-ekonomi-mikro-dan-makro

Ekonomi Mikro dan Makro 5

PERMASALAHAN EKONOMI MIKRO DAN MAKRO
  1. ilmu ekonomi deskriptif,yaitu ilmu ekonomi yang memaparkan secara apa adanya tentang  kehidupan ekonomi suatu daerah/Negara pada suatu masa tertentu,misalnya produksi beras di jawa timur tahun 2009,Tingkat harga gula di Indonesia tahun 2009
  2. ilmu ekonomi terapan,yaitu bagian ilmu ekonomi yang membahas penerapan teori ekonomi dalam suatu rumah tangga produksi,misalnya ekonomi perbankan,ekonomi perusahaan,ekonomi moneter.
  3. teori ekonomi adalah ilmu ekonomi yang menganalisis tentang hubungan antara variabel ekonomi,misalnya pengaruh kenaikan harga BBM terhadap kenaikan harga hidup,pengaruh tingkat pendapatan terhadap pola konsumsi seseorang.
TEORI EKONOMI MIKRO
Ilmu ekonomi mikro mempelajari ekonomi secar individu,misalnya perilaku konsumen dan produsen.
Analisis ekonomi mikro terbagi:
  1. teori harga; antara lain membahas tentang proses pembentukan harga, factor-faktor yang mempengaruhi perubahan permintaan dan penawaran, hubungan antara harga permintaan dan penawaran, bentuk-bentuk pasar, konsep-konsep elastisitas permintaan dan penawaran dan sebagainya.
  2. teori produksi; antara lain menganalisis tentang masalah biaya produksi,tingkat produksi yang harus di pilih oleh produsen agar tujuan mencapai laba maksimum tecapai
  3. teori distribusi; antara lain membahas tentang factor-faktor yang menentukan tingkat upah tenaga kerja, tingkat bunga yang harus di bayar karena penggunaan modal, dan tingkat keuntungan yang diperoleh para pengusaha.
TEORI EKONOMI MAKRO
Ilmu ekonomi makro mempelajari perilaku masyarakat (Negara/bangsa) dalam memenuhi kebutuhannya(masalah agregat). Awal mula lahirnya ilmu ekonomi makro diawali dengan munculnya buku yang dikarang oleh John Maynard Keynes yang bejudul The General Theory of Employment,interest,and money, yang berisi sebagai berikut” The General Theory of Employment, Interest and Money” was written by the British economist John Maynard Keynes. The book, generally considered to be his magnum opus, is largely credited with creating the terminology and shape of modern macroeconomics. Published in February 1936 it sought to bring about a revolution, commonly referred to as the “Keynesian Revolution”, in the way economists thought – especially in relation to the proposition that a market economy tends naturally to restore itself to full employment after temporary shocks. Regarded widely as the cornerstone of Keynesian thought, the book challenged the established classical economics and introduced important concepts such as the consumption function, the multiplier, the marginal efficiency of capital and liquidity preference.
Overview
Although The General Theory was written in the aftermath of the Great Depression and was taken by many to justify the assumption by government of the responsibility for the achievement and maintenance of full employment, it is for the most part a highly abstract work of theory and by no means a tract on policy. Its full meaning and significance continues to be debated even today. As a book, it is a difficult read for a modern student of economics, although it is enlivened by some brilliant rhetorical passages, including the description of the stock market in Chapter 12 and the concluding chapter 24 on the (rather tentative) policy implications Keynes derived from his theory.

Contrary to popular belief, Keynes was by no means the first to advocate public works or deficit spending in a depression, but his book provides the theoretical framework within which temporary measures like the New Deal can be justified against the “Treasury View” that public borrowing simply crowds out private investment so that government should always balance its annual budget. Keynes himself placed equal emphasis on redistributive taxation and a monetary policy of ‘cheap money’ as well as fiscal policy, and he did not believe governments should run deficits for current consumption, as opposed to public investment. The book provides the basis for a longer term commitment to the welfare state but Keynes was by no means a socialist in the usual sense and did not advocate big government for its own sake.
The central argument of the book is that the level of employment is determined, not by the price of labour as in neoclassical economics, but by the spending of money (aggregate demand). He argues that it is wrong to assume that competitive markets will, in the long run, deliver full employment or that full employment is the natural, self-righting, equilibrium state of a monetary economy. On the contrary, under-employment and under-investment are likely to be the natural state unless active measures are taken. Although few modern economists would disagree with the need for at least some intervention, policies such as labour market flexibility are underpinned by the neoclassical notion of equilibrium in the long run. One implication of The General Theory is that a lack of competition is not the fundamental problem and measures to reduce unemployment by cutting wages or benefits are not only hard-hearted but ultimately futile. Keynes does not set out a detailed policy program in The General Theory, but he went on in practice to place great emphasis on the reduction of long-term interest rates and the reform of the international monetary system as structural measures needed to encourage both investment and consumption by the private sector.
Just as the reception of The General Theory was encouraged by the 1930s experience of mass unemployment, its fall from favour was associated with the ‘stagflation’ of the 1970s. Although Keynes explicitly addresses inflation, The General Theory does not treat it as an essentially monetary phenomenon nor suggest that control of the money supply or interest rates is the key remedy for inflation. This conflicts both with neoclassical theory and with the experience of pragmatic policy-makers. Furthermore the main Keynesian prescription for inflation, incomes policy, has lost credibility.
However, many of the innovations introduced by The General Theory continue to be central to modern macroeconomics. For instance, the idea that recessions reflect inadequate aggregate demand and that Say’s Law (that supply creates its own demand) does not hold in a monetary economy. President Richard Nixon famously said in 1971 that “We are all Keynesians now” (ironically, shortly before Keynesian economics fell out of fashion), a phrase often repeated by Nobel laureate Paul Krugman.”
Buku ini merupakan landasan dari ekonomi makro pada saat ini. Dalam buku tersebut, Keynes berpendapat bahwa pengangguran dapat terjadi dan berlangsung dalam waktu yang tidak terbatas.
Aspek analisa ekonomi makro:
  1. pendapatan nasional
  2. neraca pambayaran dan kurs valuta asing
  3. kesempatan kerja
  4. inflasi
  5. pengangguran
  6. investasi
  7. pertumbuhan ekonomi
  8. suku bunga perkembangan pasar saham

sumber : http://adypato.wordpress.com/2010/05/12/permasalahan-ekonomi-mikro-dan-makro/